Rabu, 31 Agustus 2016

SEBUAH KEPUTUSAN

Sebuah Kisah
di Papua

       Kami datang dengan bekal ilmu yang kami miliki, dengan tekad sepenuh hati, serta perubahan yang bukan lagi kami anggap mimpi. Kondisi apapun harus kami hadapi di lokasi penugasan mengabdi, itulah tugas bagi seluruh peserta SM-3T saat ini, bahkan mungkin akan sampai nanti.
            Sekolah-sekolah lokasi kami mengaplikasikan ilmu-ilmu bukanlah sekolah yang lengkap dengan tempat praktiknya, bukanlah sekolah yang lengkap dengan alat-alat laboratoriumnya, bukanlah sekolah yang lengkap dengan tenaga pendidiknya, bukanlah sekolah yang lengkap dengan buku-bukunya, bukanlah sekolah yang terlihat tulisan-tulisan motivasi di dinding-dinding kelasnya, bukanlah sekolah yang terdapat tempat parkirnya, apalagi pos satpamnya. Sekolah-sekolah sasaran kami mewujudkan mimpi putra-putri bangsa ini adalah lokasi dengan bangunan seadanya serta cukup untuk bisa berhitung , membaca dan menulis. Bangunan kotak yang terdapat beberapa tumpukan buku seadanya, papan tulis serta meja dan kursi.

Kecewa, itu Manusiawi
            SM-3T Distrik Ilugwa mengukir sejarah tinta peradaban di SMP dan SMA N Ilugwa, karena SD sebelah sudah banyak guru yang mengajarkan pelajaran. 4 bertugas di SMP dan 3 di SMA. Jumlah siswa yang bisa dihitung saat berbaris dihalaman sekolah. kurang lebihnya 67 adalah siswa SMP yang terlihat selama kami mengajar, serta tiap hari rata-rata 14 yang hadir di SMA. Pun dengan tenaga pendidik yang tidak sesuai dengan daftar hadir di atas meja kantor dengan jumlah sekian banyak, namun hanya 3-4 orang yang terlihat di SMP dan 1 orang saja di SMA. Kekecewaan diri ini semakin membuncah rasanya, saat kepala sekolah SMA yang hanya datang ke sekolah hampir sebulan sekali. Entah kesibukan apa yang dimiliki, namun kami tidak menanggapi terlalu  dini, fokus kami hanya menjadi pendidik bagi mereka yang berseragam berangkat dengan kaki menuju medan perubahan setiap hari.

Tugas Kami, Ringan Sekali!
            Berangkat setiap pagi demi mimpi putra-putri pertiwi. Sekolah yang berdiri kokoh dengan tembok baru seumur jagung. Meja kursi tertata rapi setiap kelas dengan papantulis putih yang lumayan lusuh bekas hapusan spidol hitam yang lekat. Kelas 1 dengan jumlah 10 siswa, kelas dua 6 siswa dan kelas 3 berjumlah 3. 19 anak pedalaman yang yunik dengan hitam kulit serta keriting rambutnya selalu siap siaga menerima ilmu-ilmu perubahan diri gapai mimpi.
            Kesibukan 7 heroes di sekolah melebihi guru-guru aktif di perkotaan, terlebih di SMA. Tugas kami mungkin lebih dari hanya sekedar seorang pendidik. Tugas kami adalah mendidik siswa, mendisiplinkan siswa, menyuruh mereka memasukkan baju, menghukum mereka jika melanggar peraturan, menyusun jadwal pelajaran dan membagi tugas ke masing-masing guru yang bertugas, menjadi panitia UAS yang menyusun konsep serta mengaplikasikanya, membuka dan menutup pintu-pintu kelas sekolah dengan kunci-kunci yang menjadi satu bendel bersama ikatan tali pramuka yang lusuh berwarna putih keabu-abuan cokelat.
            Tugas kami “menghidupkan sekolah”, sekolah  yang sebelumnya mati suri. Ya, mati suri sebelum kedatangan kami. Suri karena mati, tidak ada manusia pendidik yang meski terdapat nama-nama tertulis pada data absensi di kantor “sekolah pertiwi”. Tugas kami menyenangkan anak-anak pedalaman dengan pembelajaran, tugas kami merawat sekolah dari tangan-tangan yang belum mengerti adab merawat tembok putih yang bersih dari coretan arang hasil pembakaran kayu-kayu pegunungan. Tugas kami melengkapi sarpras yang belum terlihat seperti bel, maka kami gunakan Velg roda mobil sebagai tanda alarm, ataukah penghapus, sulak, mading  yang tidak terlihat sama sekali, tugas kami melengkapi semua dengan kemampuan seadanya.
            Tugas kami menjadi kepala sekolah dengan konsep yang kami susun bersama awalnya. Tugas kami menjadi Waka Kurikulum dengan pembagian jam mengajar seperti biasanya yang kami bagi sendiri tanpa ada guru menyertai. Tugas kami menjadi Waka Sarpras, yang harus melengkapi kebutuhan-kebutuhan pembelajaran, kebersihan, serta  kebutuhan lain yang belum lengkap. Maka TUGAS KAMI BUKAN MERANGKAP JABATAN, NAMUN KAMI BERTINDAK SESUAI KEADAAN. 

            Pergi demi sejuta mimpi Agri*
            Alunkan ilmu perubahan diri
            Merengkuh tegar berdiri sendiri
            Tanpa guru-guru penghianat Neg’ri
           
            Menikmati tanpa rasa dengki dihati
            Fokus abdi kami demi perubahan anak-anak pertiwi
            Membaca, menulis, serta hitung tiap hari
            Bersama sahabat meja dan kursi

            Hidupkan!, hidupkan serta nyalakan!
            Jangan hanya diam bersama hitam kenyataan
            Kami datang bukan merangkap jabatan
            Namun kami bertindak sesuai keadaan
                       
                        *Agri (Anak Neg’ri)

2015
Sahabatmu
Lion :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar