Sebuah Kisah
di Papua
Kami datang dengan bekal ilmu yang kami
miliki, dengan tekad sepenuh hati, serta perubahan yang bukan lagi kami anggap
mimpi. Kondisi apapun harus kami hadapi di lokasi penugasan mengabdi, itulah
tugas bagi seluruh peserta SM-3T saat ini, bahkan mungkin akan sampai nanti.
Sekolah-sekolah
lokasi kami mengaplikasikan ilmu-ilmu bukanlah sekolah yang lengkap dengan
tempat praktiknya, bukanlah sekolah yang lengkap dengan alat-alat
laboratoriumnya, bukanlah sekolah yang lengkap dengan tenaga pendidiknya, bukanlah
sekolah yang lengkap dengan buku-bukunya, bukanlah sekolah yang terlihat
tulisan-tulisan motivasi di dinding-dinding kelasnya, bukanlah sekolah yang
terdapat tempat parkirnya, apalagi pos satpamnya. Sekolah-sekolah sasaran kami
mewujudkan mimpi putra-putri bangsa ini adalah lokasi dengan bangunan seadanya
serta cukup untuk bisa berhitung , membaca dan menulis. Bangunan kotak yang
terdapat beberapa tumpukan buku seadanya, papan tulis serta meja dan kursi.
Kecewa,
itu Manusiawi
SM-3T Distrik Ilugwa mengukir sejarah tinta peradaban
di SMP dan SMA N Ilugwa, karena SD sebelah sudah banyak guru yang mengajarkan
pelajaran. 4 bertugas di SMP dan 3 di SMA. Jumlah siswa yang bisa dihitung saat
berbaris dihalaman sekolah. kurang lebihnya 67 adalah siswa SMP yang terlihat selama kami
mengajar, serta tiap hari rata-rata 14 yang hadir di SMA. Pun dengan tenaga pendidik yang tidak sesuai dengan
daftar hadir di atas meja kantor dengan jumlah sekian banyak, namun hanya 3-4
orang yang terlihat di SMP dan 1 orang saja di SMA. Kekecewaan diri ini semakin membuncah rasanya, saat kepala
sekolah SMA yang hanya datang ke sekolah hampir sebulan sekali. Entah kesibukan
apa yang dimiliki, namun kami tidak menanggapi terlalu dini, fokus kami hanya menjadi pendidik bagi
mereka yang berseragam berangkat dengan kaki menuju medan perubahan setiap
hari.
Tugas
Kami, Ringan Sekali!
Berangkat setiap pagi demi mimpi putra-putri pertiwi.
Sekolah yang berdiri kokoh dengan tembok baru seumur jagung. Meja kursi tertata
rapi setiap kelas dengan papantulis putih yang lumayan lusuh bekas hapusan
spidol hitam yang lekat. Kelas 1 dengan jumlah 10 siswa, kelas dua 6 siswa dan
kelas 3 berjumlah 3. 19 anak pedalaman yang yunik dengan hitam kulit serta
keriting rambutnya selalu siap siaga menerima ilmu-ilmu perubahan diri gapai
mimpi.
Kesibukan
7 heroes di sekolah melebihi
guru-guru aktif di perkotaan, terlebih di SMA. Tugas kami mungkin lebih dari
hanya sekedar seorang pendidik. Tugas kami adalah mendidik siswa,
mendisiplinkan siswa, menyuruh mereka memasukkan baju, menghukum mereka jika
melanggar peraturan, menyusun jadwal pelajaran dan membagi tugas ke masing-masing
guru yang bertugas, menjadi panitia UAS yang menyusun konsep serta
mengaplikasikanya, membuka dan menutup pintu-pintu kelas sekolah dengan kunci-kunci
yang menjadi satu bendel bersama ikatan tali pramuka yang lusuh berwarna putih
keabu-abuan cokelat.
Tugas
kami “menghidupkan sekolah”, sekolah
yang sebelumnya mati suri. Ya, mati suri sebelum kedatangan kami. Suri
karena mati, tidak ada manusia pendidik yang meski terdapat nama-nama tertulis
pada data absensi di kantor “sekolah pertiwi”. Tugas kami menyenangkan
anak-anak pedalaman dengan pembelajaran, tugas kami merawat sekolah dari
tangan-tangan yang belum mengerti adab merawat tembok putih yang bersih dari
coretan arang hasil pembakaran kayu-kayu pegunungan. Tugas kami melengkapi
sarpras yang belum terlihat seperti bel, maka kami gunakan Velg roda mobil sebagai tanda alarm, ataukah penghapus, sulak,
mading yang tidak terlihat sama sekali, tugas
kami melengkapi semua dengan kemampuan seadanya.
Tugas
kami menjadi kepala sekolah dengan konsep yang kami susun bersama awalnya.
Tugas kami menjadi Waka Kurikulum dengan pembagian jam mengajar seperti
biasanya yang kami bagi sendiri tanpa ada guru menyertai. Tugas kami menjadi
Waka Sarpras, yang harus melengkapi kebutuhan-kebutuhan pembelajaran,
kebersihan, serta kebutuhan lain yang
belum lengkap. Maka TUGAS KAMI BUKAN MERANGKAP JABATAN, NAMUN KAMI BERTINDAK
SESUAI KEADAAN.
Pergi demi sejuta mimpi Agri*
Alunkan ilmu perubahan diri
Merengkuh tegar berdiri sendiri
Tanpa guru-guru penghianat Neg’ri
Menikmati tanpa rasa dengki dihati
Fokus abdi kami demi perubahan
anak-anak pertiwi
Membaca, menulis, serta hitung tiap
hari
Bersama sahabat meja dan kursi
Hidupkan!, hidupkan serta nyalakan!
Jangan hanya diam bersama hitam kenyataan
Kami datang bukan merangkap jabatan
Namun kami bertindak sesuai keadaan
2015
Sahabatmu
Lion :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar